Selasa, 13 Julai 2010

Calon Ketua Kelas

Udara pagi sejuk sekali. Sinar mentari menyinari alam dengan ceria. Seceria anak-anak yang akan memasuki kelas baru, kelas enam,kecuali Iping karena dia sendirilah yang tak naik kelas.


Setiba di sekolah mereka masih menunggu dua puluh menit lagi untuk masuk kelas. Kini mereka masih asyik berbincang-bincang, berbicara tentang pengalaman mereka selama liburan. Akhirnya tak terasa perbincangan mereka sampai pula pada pemilihan ketua kelas.

“Sebaiknya hari ini kita mengadakan pemilihan ketua kelas,” Annas mengajukan usulnya di tengah kerumunan teman-temannya.

“Aku setuju,” dukung Yunan.

“Apa alasanmu, Yun?” kejar Budi.

“Yaah, kalau hari ini kita sudah mempunyai ketua kelas, semua mudah diatur, bukan?” jawab Yunan. “Mulai besok kita juga sudah bisa belajar.”

“Belum tentu. Kita kan belum punya pedoman mata pelajaran,” sanggah Totok.

“Kalau aku boleh usul, pemilihan ketua kelas diselenggarakan setelah kita lengkap hadir,” kata Budi.

“Kenapa harus begitu?” kejar Irwan.

“Semua jadi puas. Lagipula kita siap memilih calon-calonnya lebih dulu,” jawab Budi.

Bel berbunyi. Menghentikan perdebatan mereka. Untuk sementara, anak-anak boleh memilih tempat duduk sendiri sebelum wali kelas melotrenya nanti.

Sesaat kemudian Pak Sukri, wali kelas mereka yang baru, memasuki ruang kelas dengan wajah berseri.

“Selamat pagi anak-anak,” Pak Sukri memberi salam.

“Pagi…,” jawab semua anak.

“Anak-anak, kalian mulai hari ini sudah duduk di kelas enam. Tentu saja kalian harus mempunyai tekad bulat untuk merintis diri yang lebih baik lagi daripada yang dulu, agar nanti dalam UJIAN kalian berhasil dengan memuaskan. Bukan begitu anak-anak?!”

“Ya, Paaak….,” jawab anak-anak berbarengan.

“Ada berapa jumlah kalian semua?” tanya Pak Sukri.

“Tiga puluh enam, Pak….”

“Ah masa iya, tiga puluh tujuh, bukan?”

“Iping tak naik, Paak….”

“Ya, ya,” Pak Sukri mengangguk-angguk. “Tapi ada murid baru.”

“Siapa, ya….” Seisi kelas bertanya-tanya.

“Siapa dia, Pak?” tanya Annas tertegun.

“Namanya Slamet.” Jawab Pak Sukri.

“Slamet?” bisik disana-sini.

“Siapa sih dia?”

“Kalian tahu besok. Pasti.”

“Siapa tahu dia cakap menjadi ketua kelas nanti,” kata Budi.

“Kita calonkan saja,” ujar Totok.

Esoknya, kelas menjadi gaduh setelah murid baru itu hadir. Bukan karena mereka kagum kepadanya. Bukan! Tapi karena Slamet si murid baru itu ternyata Suparlan yang pernah sekolah di sekolah itu pula. Dua tahun yang lalu dia kakak kelas anak-anak kelas enam sekarang.

Karena tak naik kelas disebabkan sakit tipes yang hampir merenggut jiwanya, Parlan pindah sekolah. Sebentar kemudian ibunya yang gelandangan itu meninggalkannya untuk selamanya. Tinggallah dia seorang diri. Tiba-tiba Parlan bertemu dengan Pak Cipto, Kepala Sekolah mereka, dipungutlah Parlan. Diasuhnya dengan baik oleh Pak Cipto, Parlan diganti namanya dengan Slamet yang artinya “selamat”.

"Kalau cuma dia saja, oho, sebenarnya tak usah ditunggu dalam menyelenggarakan pemilihan ketua kelas,” ujar Annas mengejeknya.

“Ingusan lagi. Anak gelandangan! Huh! Mau kita pilih jadi ketua kelas? Tolol jika kita memilihnya,” ejek Yunan pula. Tentu saja hati Slamet bagai diiris sembilu rasanya mendengar ejekan itu.

'Jangan begitu dong….,” cegah Budi. “Lain dulu lain sekarang.”

“Nyatanya dia anak gelandangan,” bisik Annas kepada Yunan.

Yang lain hanya berbisik-bisik disana-sini. Mereka pun membicarakan Slamet pula. Ada yang benci, ada yang kasihan. Tapi secara jujur mereka mengakui bahwa Slamet sudah banyak berubah setelah diasuh oleh Pak Cipto. Kini dia bersih dan rapi. Bersepatu pula. Padahal dulu sewaktu di kelas empat dia memang kotor dan ceroboh. Itulah maka sebagian besar dari mereka ingin mencalonkan Slamet sebagai ketua kelas hari ini. ***

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

Sila Tinggalkan Komen Anda Disini